A Moment in PASKIBRA
Pukul 14.00 WIB siang ini sangat panas. Ku cermati wajah-wajah calon anggota PASKIBRA yang baru. Mungkin ada sekitar 70 orang siswa yang ikut seleksi. Tapi aku dan teman-teman telah berencana untuk mengambil sekitar 40 orang siswa saja. Itupun mungkin ada beberapa yang mengundurkan diri seperti tahun lalu. Tapi, aku harap tidak. Ada beberapa anak yang kukenal lewat MOS kemarin. Ku dengar teman-temanku saling berbisik membicarakan gurat-gurat manja dalam wajah-wajah itu. Ada sebentuk wajah yang tak asing lagi buat ku. Cantik tapi pendiam. Bahkan bisa dikatakan angkuh. Gadis itu menunduk ketika pandanganku berhenti di bola matanya. Aku mendekatinya dan bertanya pelan.
“Kamu yakin ikut Paskibra?” tanyaku hampir berbisik. Tapi ia hanya menganggukkan kepala sebagai jawaban atas pertanyaanku
Latihan baris-berbaris dimulai hingga selesai pukul 16.00 WIB. Saat akan pulang, kudengar ada yang memanggil namaku. Aku menoleh dan menghentikan langkahku. Kulihat Areva, sahabat dekatku berlari-lari kecil kearahku.
“Ada apa?” tanyaku
“Dhan, boleh tahu ndak? Siapa cewe’ yang kamu bisikin tadi?” tanyanya penasaran.
“kenapa? Cemburu yaaa…hehehehe….” Aku bercanda sambil tertawa. Dan kuhentikan tawaku ketika melihat matanya melotot sebal. Kami biasa bercanda seperti ini.
“namanya Ninda” hanya itu jawaban yang dapat kuberikan kepadanya. Terus terang saja aku bingung memberinya jawaban, karena selama ini aku tak pernah membohongi Reva. Tapi…kali ini..lain!
Namun kecurigaannya dapat kulihat. Aku tahu ia tak puas dengan jawabku.
“aku tahu, pasti beberapa teman kita ngga’ suka ngeliat sikapnya yang angkuh itu”
Aku mencoba mencari alas an. Ku lihat dia masih diam dan berkata.
“aku harap, apa yang dipikirkan teman-teman ngga’ bener”.
Aku mengerutkan dahi. Mencari jawaban darinya lewat tatapan mataku.
“mereka bilang, kamu mulai naksir sama juniormu. Soalnya dari tadi, mereka mengamati kamu lebih sering memperhatiin cewe’ itu”
Ah, rasanya aku harus pura-pura tertawa untuk membuat sohib terbaikku ini percaya bahwa aku tidak ada apa-apa dengan Ninda
“Va, kali ini temen-temen salah. Dan aku juga masih inget pesen senior kita, bahwa kita belum boleh jatuh cinta sama junior kita, OK!!” Aku berkata diikuti anggukan Reva.
Beberapa hari ini latihan berjalan dengan lancar. 40 calon PASKIBRA yang telah terpilih itu benar-benar disiapkan secara matang dari fisik maupun mental. Namun, ada juga beberapa anak yang pingsan saat mengikuti latihan tersebut. Selama itu pula aku melihat perubahan pada gadis itu. Egonya sangat besar, dan juga paling angkuh dari yang lainnya. Diapun lebih banyak diam daripada berbicara. Saat anak-anak itu diberi bimbingan mental, tak sadar aku langsung menghadapi Ninda. Aku tak tahu apa yang harus kulakukan. Aku tak tega….tapi tanggung jawabku lebih besar. Sejenak luka yang pernah ia taburkan di masa lalu menyulut amarahku. Hingga dia menangis. Dan air mata itu adalah tangisan pertama yang aku lihat darinya. Begitu acara selesai, aku pergi. Teman-teman menatap heran padaku. Karena selama ini, mereka tak pernah melihatku semarah ini.
16.00 WIB, latihan belum usai, tapi aku bergegas pulang. Sampai dipintu gerbang, Areva menghadangku. Dia hanya berdiri sambil menatap tajam kearahku. Entah apa yang dicarinya dalam mataku. Mungkin penjelasan atau mungkin pertanggungjawaban karena aku telah membuat seorang gadis menangis. Dia masih berdiri saat mencari tempat untuk duduk. Lalu ia pun duduk disampingku.
“maafkan aku Va, beberapa hari ini aku bohong sama kamu” aku berusaha memulai pembicaraan.
Kuhela nafas panjang untuk mengatakan satu hal penting untuk diketahui Areva.
“ninda adalah mantan pacarku Va. Dia pernah mengisi hari-hariku, tapi lalu pergi tanpa mau memperdulikan aku lagi, hingga hatiku sangat sakit Va”. Ku akui kejujuran ini dengan penuh penyesalan.
Areva masih diam mematung. Tapi aku bisa melihat rasa terkejutnya dari keterus terangan ini. Ia menunggu kelanjutan kata-kataku.
“kini aku menjadi seniornya. Tapi…rasa sakit itu masih ada, dan aku tak mengerti mengapa dia bisa berubah seburuk itu..”. aku mengeluh….menunduk…
“tapi…bukan lewat organisasi ini kamu bisa seenaknya melampiaskan sakit hati mu” Kali ini areva berbicara.
” Kamu salah Va, justru aku ingin mengembalikan Ninda yang dulu ku kenal, Ninda yang dulu ku kagumi, ramah, ceria dan tidak se egois sekarang”. Aku masih menunduk.
“ apa kamu mau membantuku Va?” aku bertanya denga suara lirih sambil menengok ke arah sahabatku ini. Beberapa detik kulihat anggukan diikuti senyumannya yang khas.
Upacara 17 Agustus tahun ini di tingkat Kabupaten cukup berhasil dengan baik. Tapi ada satu hal yang membuatku terkejut, Ninda ingin keluar dari dari PASKIBRA, tanpa alasan yang jelas. Aku pun jarang melihatnya ikut latihan bersama dengan teman-temannya.
Dan hari ini, satu minggu setelah upacara 17 Agustus, aku dan Areva membicarakan hal ini. Areva bersedia membujuk Ninda kembali dalam organisasi ini. Ku akui aku takut kalau dia sakit hati padaku. Yach…meski dia pernah menyakiti hatiku.
Sepulang sekolah kulihat Areva menunggu Ninda keluar dari kelasnya. Sesaat mereka bertegur sapa. Lalu…mereka berdua meninggalkan koridor sekolah yang masih ramai. Aku mengikuti kemana mereka pergi. Di depan ruangan kecil di mana anggota-anggota PASKIBRA sering berkumpul, mereka berdua duduk. Aku menyelinap ingin tahu apa yang mereka bicarakan. Sekolah hampir sepi, tapi Areva maupun Ninda belum bicara. Hingga beberapa menit kemudian……
“ sebenarnya apa yang kamu cari di PASKIBRA kalau pada awal perjalanan ini, kamu memutuskan untuk keluar” Areva bertanya tanpa sedikitpun menoleh pada gadis itu. Tapi gadis itu hanya diam dan menunduk.
“ kalau kamu berfikir bahwa Ardhana atau siapapun senior kamu di organisasi ini memberi tempaan pada kamu hanya sebagai pelampiasan dendam…itu salah, buang jauh-jauh pikiran seperti itu. Yang ada justru kasih sayang, bahkan Ardhana mungkin lebih tahu dari itu” panjang lebar Areva berbicara, tapi hasilnya sama, tak ada komentar maupun sepatah katapun dari Ninda.
“katakanlah!! Apa alasanmu keluar dari PASKIBRA? Karena siapa?”. Kali ini Areva menoleh disaat gadis itu menoleh kepadanya. Mereka beradu pandang…1 detik..2 detik…hingga sekian detik yang di dapati Areva hanya kebisuan dan titk air mata, bukan jawaban dan kejujuran hati Ninda.
“aku pikir keangkuhanmu adalah wakil dari ketegaran dirimu, namun yang kudapatkan justru sebaliknya”.
Ninda mulai untuk berbicara. “ kak……saya ngga’ ingin menyakiti kak Ardhana untuk kedua kalinya..”. dia menyeka air matanya dan aku terkesiap mendengar pengakuannya. Kali ini Areva ikut terkejut. Bibirnya terkunci rapat.
“saya pikir dengan aktif di salah satu organisasi di sekolah, saya bisa menemukan jati diri saya dalam sebuah kedewasaan, dengan begitu saya dapat melupakan masa lalu saya. Tapi….tapi disini Ardhana mengingatkan saya dengan semua yang hampir terkubur”.
Hening sejenak……………………………..
“tapi Ardhana tak pernah ingin membalas sakit hatinya padamu”.
Gadis itu memandang Areva, tapi Areva hanya memandang tak menoleh padanya setelah ia berbicara.
“pikirkan lagi keputusanmu…jalan masih panjang untuk kamu lalui.”. Sepi lagi, gadis itu menunduk dan Areva melanjutkan.
“aku yakin kamu bisa menjadi lebih baik, seperti dulu…sebelum kamu menyakiti Ardhana dan meninggalkannya.”
Ada rasa sakit yang menusuk dada gadis itu. Aku bisa melihat dari paras wajahnya. Dan…aku mengerti bahwa sebenarnya Areva tak berniat menyinggungnya.
Nafas angin yang sejuk masih menyapa hari. Ku tengok jam tanganku dan bergegas pulang. Aku hanya tinggal menunggu hari esok dan mendengar cerita dari Areva.
Siang ini anak-anak PASKIBRA dikumpulkan unutk membicarakan masalah pelantikan. Aku mencari Ninda, tapi tak ada. Aku berbalik dan duduk di koridor kelas dekat lapangan mereka berkumpul. Tak lama kemudian kulihat dua orang gadis berlari-lari kecil menuju lapangan. Aku tersenyum lega, ku amati benar saat Areva berbicara pada Komandan PASKIBRA. Kulihat pula wajah anak-anak PASKIBRA kembali cerah. Inilah yang kuharapkan. Tak ada anak yang tahan dengan tempaan dalam paskibra, tapi aku yakin bahwa semua itu sangat bermanfaat bagi seluruh anggotanya.
“Ardhana aku berhasil”. Kehadiran Areva menghapus lamunanku.
“thanks yaa, kamu emang sahabatku yang paling baik” aku tersenyum…apalagi melihat gadis di depanku ini mencibir lucu.
“jangan lupa coklatnya yach…”.ucapnya
“sekali-kali pamrih kan ndak pa-pa….”lanjutnya sambil mempermainkan bola matanya.
Aku hanya bisa tertawa melihat sikapnya yang seperti itu…kekanak-kanakan sekali. Tapi di sisi lain ia lebih dewasa dari aku. Dan aku heran, gadis sedewasa dia belum mau jatuh cinta. Kedekatan kami emang baru terjalin saat kami bersama-sama menghadapi tempaan dalam organisasi ini. Kurang lebih satu tahun kami bisa saling terbuka, demikian pula dengan anggota PASKIBRA yang lain…kami seperti saudara…di dalamnya terdapat banyak sekali kasih sayang yang gak akan pernah berakhir.
“Dhan…gimana?”. Pertanyaan Areva mengejutkanku. Dia tertawa ketika aku menganggukan kepalaku.
” Va…kamu ndak pengen punya pacar…?”. Aku bertanya, tapi…Areva hanya menatapku…lalu perlahan-lahan tawanya meledak. Aku hanya bisa menggelengkan kepalaku.
“ kamu sendiri bagaiman dengan Ninda?” dia balik bertanya setelah tawanya mereda. Aku menghela nafas panjag.
“ di organisasi ini, kedudukanku sebagai senior…so…aku harus bisa jaga wibawa dunkz”. Aku serius mengatakan hal itu. Tapi Areva menahan senyum…aku melirik kesal kepadanya.
“Oh yaaa….” Areva mulai tertawa kembali..
“Va…jujur dech…sebenarnya aku lebih seneng melihat kamu diem”. Aku berbisik dan dia malah semakin keras tertawanya…..
Aku berdiri dan menarik tas ransel di punggungnya untuk menuju lapangan.
Persahabatan kami tercipta dari kebersamaan kami selama ini. Dan kenangan selama di SMU ini mungkin akan selalu melekat dalam hatiku. Air mata pernah tertumpah, tawa pun sering merekah
By……….Fb’nD@ (009)