Surat Buat Nanda
Awal Mei 2001
Untuk Ananda Dewangga di meja belajarnya.
Hallo, adikku yang manis, gimana nih kabarnya, baik-baik saja kan. Alhamdulillah kak Rana juga sehat-sehat aja kok, buktinya masih bisa nulis surat buat Nanda. Nanda yang kadang-kadang manja, sekolahnya lancer-lancar aja kan, pokoknya jangan sampai penyakit malas menjangkiti kamu yah. Kak Rana doain deh moga-moga Nanda berhasil menggapai impian Nanda. Nanda…sebenarnya kak Rana pengen banget bisa nemenin kamu terus, tapi sayang sekarang kak Rana udah harus konsen ke study, lagi pula udah waktunya buat Nanda dan teman-teman untuk mandiri. Oh iya Nanda belum lupa kan saat kakak dan rekan-rekan ikut lomba PBB & TUB di tingkat karesidenan ? itu lho yang pakai acara nggak ikut pelajaran segala buat latihan. Udah gitu jadwal latihannya padet banget. Sampai-sampai tulang-tulang di badan rasnya mo copot. Tapi kami tetap semangat , soalnya kami terlanjur senang dapat kesempatan membela Kabupaten Boyolali, jadi lelahnya nggak dirasain deh.
Percaya atau tidak, tapi saat itu kak Rana merasa tambah deket ma rekan-rekan yang laen. Yah…mungkin keadaan yang membuat kita satu, dan yang jelas kak Rana sangat manikmati kebersamaan kami.
Sabtu tanggal 7 April 2001 adalah saat perlombaan di Sukoharjo. Hari itu benar-benar takkan terlupakan. Bagaimana tidak…saat itu kak Rana merasakan luka yang di tanggung bersama. Ya…waktu kontingen Boyolali mendapat giliran untuk tampil, hujan tiba-tiba turun dengan deras dan guntur menggelegar keras. Nanda…saat itu kami tak henti-hentinya berdoa agar hujan segera reda. Tapi apa daya, Yang Kuasa tampaknya menginginkan kami di tengah guyuran air hujan. Nanda, kami saat itu bener-bener merasa…ah entah kak Rana harus bilang apa tapi yang jelas kami adalah satu-satunya kontingen yang bertanding di tengah hujan. Soalnya hujan belum turun saat kontingen kami belum bertanding dan cuaca mendadak menjadi cerah saat kami keluar dari arena pertandingan. Jadi kami harus rela pulang dengan keaadan bash kuyup karena nggak bawa pakaian ganti.
Mungkin hujan itu memang suatu berkah dari-Nya karena dua hari setelah lomba tersebut, kami mendapat kabar kalau kontingen Boyolali menempati peringkat 1, artinya kami mewakili karesidenan Surakarta di tingkat Provinsi Jawa Tengah. Cihuy…rasa senang, haru, nggak percaya, bangga semua campur jadi satu. Tapi perjuangan kami belum selesai. Kami harus bertanding kembali pada tanggal 17-19 April 2001 di gelora Jatidiri Semarang. Inilah debut PASKIBRA yang perdana di kancah Provinsi dan meskipun hasilnya belum optimal (peringkat ke-5) tapi kami sudah cukup puas dapat mempersembahkan yang tervaik yang kami punyai.
Nanda…mungkin kamu sekarang belum mengerti apa itu kebersamaan. Tapi percayalah, waktu akan membimbingmu dan yakinlah kesetiaan yang kamu banggakan selama ini takkan sia-sia. Pokoknya jangan sampai mata rantai PASKIBRA putus sampai disini. Kami yakin adik-adik kami dapat menjaganya dengan baik dan mampu menuliskan kisah perjuangan dengan tinta emas kebersaman.
Kakakmu, Kirana (007)
(from ZODIAK eds. 2/1/Juni 2001)